Ketika makanan menjadi simbol perlawanan, tak hanya rasa yang dibicarakan, tapi juga identitas, sejarah, dan solidaritas. Itulah yang terjadi dengan Maqluba, hidangan tradisional Palestina yang kini telah menjelma menjadi lebih dari sekadar kuliner. Maqluba adalah simbol ketahanan budaya, perlawanan damai, dan identitas nasional Palestina yang melampaui dapur-dapur rumah tangga.
dalam bahasa arab maqluba berarti terbalik, yaitu sebuah hidangan yang terdiri dari sajian nasi, daging (biasanya ayam atau domba), dan sayuran seperti terung, kembang kol, dan kentang yang disusun berlapis dalam panci, dimasak perlahan, lalu dibalik saat disajikan, menciptakan tampilan yang dramatis sekaligus mengundang selera. Tapi jauh sebelum ia menjadi populer di media sosial dan restoran Timur Tengah di seluruh dunia, Maqluba adalah bagian dari kehidupan sehari-hari warga Palestina, dan kini menjadi bagian dari perjuangan mereka.
Baca Juga: Mengajarkan Adab Sebelum Ilmu: Pesan Lama yang Terlupakan di Sekolah Modern
Maqluba dipercaya telah menjadi bagian dari tradisi masakan Levant sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa sejarawan mengaitkan asal-usulnya dengan era Kekhalifahan Abbasiyah. Namun, dalam konteks Palestina, Maqluba bukan hanya hidangan keluarga yang menghangatkan akhir pekan, tetapi juga pengingat akan tanah air yang sedang diperjuangkan.
Makanan sering kali menyimpan cerita dan makna tersirat. Di Palestina, Maqluba mewakili keterikatan pada tanah, karena bahan-bahannya tumbuh dari bumi Palestina. Proses memasaknya yang melibatkan kesabaran dan perhatian juga mencerminkan nilai-nilai kolektif dalam budaya Palestina: ketekunan, kebersamaan, dan kesetiaan pada tradisi. lebih dari itu, aksi membalik Maqluba saat disajikan sering dimaknai secara simbolik sebagai bentuk pembalikan sistem atau struktur yang menindas, yakni bentuk metafora damai terhadap penolakan terhadap pendudukan.
Puncak dari simbolisme Maqluba sebagai bentuk perlawanan budaya terjadi pada tahun 2017, ketika ribuan warga Palestina secara kolektif menyantap Maqluba di jalanan sekitar Masjidil Aqsa di Yerusalem. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes damai terhadap tindakan Israel yang membatasi akses warga Palestina ke tempat suci tersebut. Alih-alih mengangkat senjata, mereka membawa panci Maqluba, duduk bersama di jalanan, dan menyantap makanan itu dengan damai. Gambar-gambar dari aksi ini menyebar luas di media sosial, memperlihatkan bahwa perlawanan bisa dilakukan dengan sendok dan piring, bukan hanya dengan demonstrasi dan slogan.
Di tengah konflik yang memperebutkan tanah, batas wilayah, dan bahkan narasi sejarah, makanan menjadi alat pertahanan identitas. Banyak makanan Timur Tengah sering diklaim sebagai milik bersama, tetapi bagi Palestina, Maqluba adalah simbol eksklusif yang secara tegas diasosiasikan dengan mereka. Dengan menyajikan dan memperkenalkan Maqluba ke dunia, warga Palestina menunjukkan bahwa mereka punya budaya yang kaya, akar sejarah yang dalam, dan warisan kuliner yang hidup—sesuatu yang tak bisa dihapus oleh pendudukan atau propaganda.
Di kamp-kamp pengungsi, Maqluba menjadi pengikat memori. Di diaspora Palestina, memasak Maqluba adalah cara untuk tetap terhubung dengan tanah air yang dirindukan. Di rumah-rumah di Gaza atau Tepi Barat, aroma Maqluba bukan sekadar aroma makanan, tapi aroma rumah, kenangan, dan harapan.
Fenomena Maqluba ini merupakan bagian dari konsep yang lebih luas yang dikenal sebagai perlawanan budaya. Dalam konteks Palestina, perlawanan budaya berarti mempertahankan bahasa Arab, mengenakan pakaian tradisional, merayakan hari besar, menulis puisi, melukis mural, dan tentu saja—memasak makanan tradisional.
Di saat banyak aspek kehidupan Palestina direpresi atau dihapus dari peta resmi, kuliner menjadi medan perlawanan yang tak kasatmata, tetapi sangat kuat. Ia tak bisa diblokade, tak bisa disensor, dan tak bisa dipenjarakan. Ia hidup di dapur, di lidah, di hati.
Popularitas Maqluba kini meluas ke luar Palestina. Banyak restoran Timur Tengah di Eropa, Asia, dan Amerika kini menyajikannya. Video tutorial memasak Maqluba bertebaran di YouTube. Bahkan chef-celebrities dari luar Timur Tengah mulai mengadopsi Maqluba dalam menu mereka. Namun, penting untuk tidak melepaskan Maqluba dari konteks asalnya.
Memasak Maqluba bukan hanya mengikuti resep, tetapi juga menghormati cerita di baliknya. Sama seperti sushi mewakili Jepang atau paella mewakili Spanyol, Maqluba adalah narasi kuliner dari Palestina. Dalam setiap suapan, terdapat kisah diaspora, perjuangan, dan kerinduan akan kemerdekaan.
Maqluba bukan hanya makanan. Ia adalah manifestasi dari cinta terhadap tanah air, cara damai untuk menyampaikan protes, dan alat untuk mempertahankan jati diri. Di tengah konflik yang berkepanjangan, Maqluba menjadi ruang yang aman—tempat warga Palestina bisa merayakan budaya mereka tanpa ancaman.
Ketika ribuan orang menyantap Maqluba bersama di jalanan Yerusalem pada 2017, mereka tidak hanya mengisi perut, tapi juga mengisi ruang publik dengan makna solidaritas, ketahanan, dan identitas. Aksi itu membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu harus keras; ia bisa hadir dalam bentuk yang paling manusiawi—makan bersama.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, barangkali kita semua bisa belajar dari Maqluba bahwa duduk bersama, berbagi makanan, dan merayakan budaya adalah langkah kecil namun bermakna menuju perdamaian dan pengakuan. Karena pada akhirnya, yang dipertahankan Palestina bukan hanya tanah, tapi juga hak untuk menjadi diri mereka sendiri—dan Maqluba adalah salah satu cara terlezat untuk mengingat itu.
