Di tengah gemuruh kota modern Fez, tersembunyi sebuah dunia yang seakan membisu di waktu lalu yaitu Fès el‑Bali, bagian tertua dari kota Fez. Kawasan ini bukan hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan identitas spiritual yang masih hidup. Terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak 1981. Fès el‑Bali adalah medina terbesar tanpa kendaraan di dunia yang menawarkan pengalaman otentik kehidupan abad pertengahan.
1. Asal-usul dan Sejarah Awal
Fez resmi didirikan antara tahun 789–808 M oleh Dinasti Idrisiyah, yang kemudian menyatu menjadi satu kota besar di bawah pemerintahan Almoravid dan Almohad pada abad ke-11 dan 12. Kota ini menjadi pusat penting dalam bidang administrasi, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas. Pada abad ke-13 hingga 15 di bawah Dinasti Marinid, Fez mengalami puncak kejayaan. pada saat itu dibangun madrasah-madrasah megah dan ekspansi budaya yang meluas hingga Maroc Marrakech.
2. Tata Ruang Kota: Labirin Jalan dan Arsitektur Islam-Klasik
Fès el‑Bali memiliki struktur kota pra-modern: lebih dari 9.000 gang sempit yang hanya bisa dilalui berjalan kaki.Bangunannya terdiri dari rumah-rumah tradisional (riad) dengan interior ruang terbuka, halaman tertutup, dan fasad berornamen zellij (mozaik keramik), pintu kayu ukir, dan plesteran hias yang kaya detail Morokko. Jalan-jalan itu dirancang untuk bertahan terhadap teriknya sinar matahari dan memberikan keamanan serta privasi bagi penghuni.
3. Universitas dan Madrasah Tertua: Al-Qarawiyyin dan Bou Inania
Salah satu kebanggaan utama Fès adalah Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan pada 859 M oleh Fatima al‑Fihri. Dan diakui oleh UNESCO dan Guinness sebagai universitas tertua yang masih beroperasi hingga saat ini. Di dekatnya, berdiri Bou Inania Madrasa dari abad ke-14 yang memamerkan keindahan arsitektur Marinid dengan ubin zellij, kayu cedar, dan motif geometris halus—salah satu dari sedikit bangunan agama yang boleh dikunjungi non-Muslim.
Baca Juga: Tantangan dan Problematika Pendidikan Bahasa Arab di Era Modern
4. Souk dan Bazaar: Denyut Ekonomi Tradisional
Di jantung medina terdapat Kissariat al-Kifah, bazaar prestisius yang telah ada sejak abad ke-9–10. Pasar ini dikelilingi masjid dan zawiya, dan hanya dikhususkan untuk barang-barang mewah seperti kain sutra, perhiasan, atau karpet. Selain itu, kawasan seperti Souk al-Attarine menjual rempah, parfum mawar, dan bahan khas lainnya secara hiruk-pikuk dengan aroma khas.
5. Chouara Tannery: Kerajinan Kulit Tradisional
Salah satu pemandangan paling ikonik di Fès el‑Bali adalah Chouara Tannery, fasilitas penyamakan kulit tradisional yang telah berjalan selama berabad-abad. Prosesnya melibatkan perendaman kulit di dalam bak berisi pewarna alami—keringat bau ammonia? Ya, itu bagian dari tantangannya. Pengunjung sering diberi daun mint untuk memperingan bau sebelum naik ke teras pandang. Kulit yang dihasilkan kemudian dijahit menjadi tas, sepatu, atau jaket dan diekspor ke seluruh dunia.
6. Seni, Kerajinan, dan Museum
Fès adalah rumah bagi pengrajin tangan yang ahli membuat zellij, tembikar, tekstil tenunan tangan, dan logam ukir. Museum seperti Museum Seni Kayu Nejjarine di bekas funduq (karavanserai) menampilkan furnitur, alat musik, dan kerajinan kayu tradisional dari Fez el‑Bali dan sekitarnya.
7. Makam dan Zawiya: Sepenggal Sejarah Spiritual
Di jantung medina terdapat Zawiya Moulay Idris II, tempat makam pendiri Fez yang sangat dihormati. Selain itu juga ada zawiya ziarah bagi wali besar lain, seperti Sidi Ahmed al‑Tijani dan Sidi Abdelkader al‑Fassi. Makam-makam ini menjadi pusat dzikir, ziarah, dan pengajaran spiritual bagi umat Islam di sekitarnya.
8. Taman Jnan Sbil: Ruang Hijau yang Menyejukkan
Di batas antara Fès el‑Bali dan Fès el‑Jdid terdapat Jnan Sbil Gardens—taman publik seluas sekitar 7,5 hektar yang dibuka untuk umum sejak 1917. Dihiasi air mancur, pohon-pohon eksotis, dan subdivisi seperti taman Andalusia atau taman bambu. Kini tempat ini juga menjadi lokasi pertunjukan festival musik suci tahunan.
9. Tantangan Pelestarian dan Modernisasi
Kota tua ini menghadapi ancaman degradasi karena kepadatan penduduk, minimnya dana restorasi, dan tekanan urbanisasi. UNESCO bersama pemerintah Maroko telah menjalankan program restorasi jangka panjang termasuk rehabilitasi bangunan, penguatan infrastruktur, serta pelatihan pengrajin dan pemandu lokal.
10. Festival dan Kehidupan Budaya
Fès terus menjadi pusat budaya dan spiritual. Salah satu acara paling terkenal adalah Festival Musik Suci Dunia Fes, di mana seniman dari berbagai negara tampil di lokasi-lokasi bersejarah di medina. Ada juga festival warisan yang menampilkan kerajinan tangan, kuliner, musik sufi, dan puisi lokal.
11. Pengalaman Wisata: Jelajah, Rasa, dan Kehidupan Sehari-hari
Pengalaman menjelajah Fès el‑Bali menyajikan sensasi dunia nyata abad pertengahan. Ribuan gang ruas sempit, tanpa kendaraan—hanya gerobak, keledai, dan kaki manusia yang mengantar barang. Menyusuri utama seperti Talaa Kebira dan Talaa Saghira adalah cara terbaik memahami ritme hidup medina. Disarankan membawa pemandu lokal atau setidaknya alamat jelas karena mudah tersesat
Makanan khas Fez seperti pastilla (pai gurih-manis isi daging merpati atau ayam), ta’jine, sup harira, serta makanan penutup rempah khas menjadi bagian tak terpisahkan dari keliling medina. Banyak restoran seperti Dar Roumana, Dar Hatim, Fez Café, atau Nur memberikan atmosfer otentik dan cita rasa otentik sekaligus modern.
Fès el‑Bali bukan hanya museum berjalan, melainkan kota yang masih bernyawa. Sejarah, agama, seni, dan kehidupan bersatu di balik tembok-tembok tua. Di setiap sudut, ada cerita tentang ketekunan pengrajin, kesalehan ulama, kecerdasan akademis, dan kekayaan budaya yang diwariskan selama lebih dari seribu tahun.
Mengunjungi Fès el‑Bali berarti menyelami sejarah yang tidak digambarkan oleh batu atau patung semata, tetapi oleh kehidupan nyata—cahaya lampu di gang sempit, aroma kulit dan rempah, suara doa dan puisi, serta kerlip ubin mosaik yang memantulkan identitas kota. Ia adalah jendela waktu yang tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, menghormati, dan terinspirasi dari warisan peradaban Islam di Afrika Utara.
