Sejarah Berdirinya Dinasti Utsmaniyah
Dinasti Utsmaniyah didirikan oleh Usman I, keturunan suku kabilah di Turkmenistan. Suku kabilah tersebut mengembara dari Kurdisan ke Anatolia dan menetap di kota Akhlath. Para ahli memiliki dua pendapat tentang alasan pengembaraan mereka. Pendapat pertama menyebutkan bahwa faktor ekonomi adalah penyebabnya. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka pindah untuk menghindari serangan tentara Mongol di bawah kepemimpinan Jengkhis Khan.
Pengembaraan dipimpin oleh Sulaiman Syah. Mereka mengembara ke Anatolia dan singgah di Azerbaijan. Namun, sebelum sampai ke tujuan, Sulaiman Syah meninggal dunia. Kepemimpinan kemudian diambil alih oleh putranya, Erthugrul.
Sesampai di Anatolia, mereka disambut oleh penguasa Bani Saljuk, Sultan Alauddin II. Saat itu, Bani Saljuk tengah berperang melawan Kerajaan Byzantium. Mereka lantas membantu Bani Saljuk hingga mendapatkan kemenangan.
Seusai pertempuran, pemimpin Bani Saljuk memberikan penghargaan kepada Raja Ertugrul dan rombongannya berupa sebidang tanah di perbatasan barat Anatolia, dekat perbatasan Romawi. Mereka tinggal di sana dan menjadikan kota Syukud sebagai ibu kota.
Ertugrul wafat pada tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman I. Sebagaimana ayahnya, Usman banyak berjasa kepada Bani Saljuk dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Byzantium yang berdekatan dengan kota Broessa.
Pada tahun 1300 M, Bani Saljuk runtuh. Keruntuhan Bani Saljuk disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Perpecahan antar keluarga penguasa Bani Saljuk sendiri menyebabkan bentrokan militer terus-menerus. Serangan bertubi-tubi dari tentara Mongol pun menjadi pengaruh besar dalam runtuhnya Dinasti Bani Saljuk.
Setelah runtuhnya Dinasti Bani Saljuk, Usman I mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Usmani di Turki.
Penaklukan Konstantinopel
Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam pada masa Dinasti Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad II atau yang biasa disebut Sultan Muhammad Al-Fatih. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1453 M / 875 H. Upaya untuk menaklukkan Konstantinopel ini telah berlangsung bahkan sejak tahun 44 H pada masa kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sofyan. [3] Namun, akhirnya pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih, Konstantinopel berhasil jatuh ke tangan kaum Muslimin, yang mana hal ini menjadi pintu gerbang bagi Kekhalifahan Utsmani untuk melebarkan sayap kekuasaannya ke Mediterania Timur hingga ke Semenanjung Balkan.
Baca Juga: MENYELAMATKAN GENERASI: KRISIS LITERASI DI KALANGAN PELAJAR
Kelahiran Muhammad Al-Fatih
Muhammad II bin Sultan Murad II dilahirkan di istana sultan yang terletak di ibu kota Daulah Utsmaniyah pada tanggal 30 Maret 1432 M. Beliau adalah putra dari Sultan Murad II dan ibunya bernama Ratu Himmah Khatun.
Sejak usia Muhammad II masih dini, ayahnya, Sultan Murad II, menyiapkan beberapa guru khusus untuknya. Namun, mereka semua gagal mengajarinya karena beliau merupakan seorang anak yang bandel dan tidak mau mendengar perkataan guru. Melihat hal tersebut, Sultan Murad II lantas meminta seorang ulama, Maula Ahmad bin Ismail Al-Kurani, untuk membina dan mengajar putranya. Sultan Murad II memberi Al-Kurani sebuah cambuk untuk digunakan apabila Muhammad II tetap bandel dan tidak mendengarkan gurunya.
Sultan Murad II juga memerintahkan seorang guru lain untuk mengajar putranya, yaitu Syekh Asy-Syarif Muhammad bin Hamzah Ad-Dimaysqi, yang digelari “Aq Syamsuddin”. Beliau adalah orang yang menanamkan kepada Muhammad II bahwa dialah sang pemimpin mujahid yang dimaksudkan dalam hadis Nabi yang ada dalam Musnad Imam Ahmad:
لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
“Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukkan. Maka sungguh panglima (pasukan penakluk itu) adalah sebaik-baiknya pemimpin, dan sungguh pasukan (penakluk itu) adalah pasukan terbaik.”
Aq Syamsuddin ini adalah guru yang sangat dihormati dan disegani oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Beliau mengajari Muhammad Al-Fatih berbagai disiplin ilmu seperti Al-Qur’an, Sunah Nabawiyah, Fikih, ilmu-ilmu Keislaman, dan Bahasa. Begitu juga dengan ilmu-ilmu Sains seperti Matematika, Falak, Sejarah, dan Militer. Beliau juga membimbing Sultan Muhammad Al-Fatih ketika beliau menjabat sebagai pemimpin Magneesa.
Saat sudah menjadi sultan bagi Daulah Utsmaniyah, sang syekh mengarahkannya untuk segera merealisasikan apa yang dijanjikan Nabi dalam hadis tentang Konstantinopel. Maka pasukan Daulah Utsman pun mengepung Konstantinopel dari arah laut maupun darat. Pertarungan sengit antara keduanya berlangsung selama 54 hari.
Saat Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menduduki kota Konstantinopel, Syekh Syamsuddin tidak serta merta membiarkan sultan Muhammad menjadi orang yang terlena dengan kekuasaan. Beliau tetap mengajarkannya untuk menjadi pemimpin yang rendah hati dan memperlakukan rakyatnya dengan adil.
Penulis Al-Badr Ath-Thali’ menyebutkan:
“Sehari kemudian sultan mendatangi kamar Syekh Aq Syamsuddin sementara ia sedang berbaring. Namun beliau tidak berdiri menyambutnya. Sultan malah mencium tangannya dan mengatakan: ‘Aku menemui Anda karena suatu keperluan.’ Syekh bertanya: ‘Apa itu?’ Sultan menjawab: ‘Aku ingin ikut berkhalwat bersama Anda.’ Namun sang syekh menolaknya. Sultan berulang kali mendesaknya, namun ia tetap mengatakan: ‘Tidak.’ Hal itu membuat sultan marah dan berkata: ‘Ada seorang Turki yang meminta pada Anda lalu Anda mengizinkannya untuk ikut berkhalwat bersama Anda hanya dengan satu kata, sementara aku, Anda tidak mengizinkanku!’. Maka syekh menjawab: ‘Karena jika engkau ikut berkhalwat engkau akan menemukan nikmatnya, yang kemudian akan menyebabkan posisi kesultanan akan jatuh dalam pandanganmu, hingga akibatnya urusan kesultanan itu akan kacau dan Allah akan murka kepada kita karenanya. Tujuan berkhalwat adalah untuk mendapat keadilan. Karena itu engkau harus melakukan ini, ini, dan ini..’. Lama kemudian sultan mengirimkan uang sebesar 1000 dinar. Namun syekh tidak menerimanya. Ketika Sultan Muhammad keluar meninggalkan kemah syekh, ia mengatakan kepada orang-orang yang mendampinginya: ‘Syekh tidak mau berdiri menyambutku.’ Maka seseorang dari mereka berkata: ‘Mungkin ia menyaksikan adanya kesombongan dalam diri Anda setelah keberhasilan penaklukan ini dengan semua kemudahan yang tidak diberikan kepada sultan besar yang pernah ada. Sehingga dengan begitu, ia ingin menghilangkan kesombongan itu dari diri Anda.'”
Demikianlah sang syekh senantiasa mengajarkan Al-Fatih dengan nilai-nilai keimanan, keislaman, dan keihsanan.
Strategi Penaklukan Konstantinopel
Konstantinopel adalah sebuah kota yang dikelilingi air laut di ketiga arahnya sehingga tidak mungkin dikepung tanpa adanya armada laut. [4] Oleh karena itu, Muhammad Al-Fatih menyiapkan berbagai model kapal agar kompatibel untuk menjalankan perannya menyerang Konstantinopel.
Sultan Muhammad Al-Fatih juga membangun Benteng Roumli Hizhar yang berada di bagian Eropa pada Teluk Bosporus, pada titik tersempit yang berhadapan dengan benteng yang dibangun pada masa Sultan Bayazid di daratan Asia.
Senjata-senjata yang dibutuhkan untuk menyerang Konstantinopel juga diberi perhatian khusus oleh Sultan Al-Fatih. Salah satunya adalah Meriam. Beliau mendatangkan seorang ahli dalam membuat Meriam yang berhasil merancang dan menciptakan beberapa Meriam besar.
Pada hari penyerangan, Meriam-meriam Utsmani menembak dari berbagai titik menuju ke arah kota itu. Hal ini berhasil menghancurkan beberapa pagar yang mengelilingi kota itu. Namun, pasukan pelindungnya berhasil membangun kembali pagar-pagar tersebut.
Berbagai upaya dilakukan tetapi belum sedikit pun terlihat harapan untuk bisa menembus pertahanan Konstantinopel. Hingga akhirnya sultan memiliki ide cemerlang, yaitu memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju Teluk Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang terletak antara dua pelabuhan demi menjauhi Benteng Galata, karena khawatir kapal-kapal itu akan terlihat oleh pasukan sebelah barat.
Dimulailah rencana tersebut dan operasi itu berhasil dalam satu malam. Kini tidak ada laut pemisah antara pembela Konstantinopel dengan pasukan Utsmani.
Pasukan Utsmani kembali menembakkan Meriam-meriam ke arah Konstantinopel dan berusaha memanjat pagar-pagar pelindung namun belum kunjung berhasil. Mereka juga menggali sebuah lubang bawah tanah yang menuju ke dalam kota Konstantinopel. Namun, hal itu diketahui oleh pemimpin Konstantinopel sehingga ia menggali ke arah pasukan Utsmani menuju ke dalam kota dan membakar mereka. Pasukan Utsmani tidak menyerah. Mereka kembali membangun terowongan-terowongan dari berbagai arah menuju ke dalam kota. Mereka terus melakukan itu hingga hari-hari pengepungan.
Pada tanggal 20 Jumadil Ula 857 H / 29 Mei 1453 M, dimulailah penyerangan umum atas kota Konstantinopel. Serangan terakhir itu dilakukan secara serempak lewat darat dan laut sesuai dengan perencanaan detail yang dirancang dengan baik.
Serangan itu sendiri terbagi di banyak lokasi, namun dipusatkan secara prioritas di Kawasan Lembah Lycus, yang dipimpin langsung oleh Sultan Al-Fatih sendiri. Kelompok yang menyerang di kawasan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok-kelompok itu menyerang secara bergantian sehingga pihak lawan merasa kewalahan dalam menghadapi pasukan Utsmani.
Menjelang terbitnya cahaya pagi, pasukan Utsmani melipatgandakan upaya penyerangan mereka. Mereka kembali menembakkan Meriam-meriam ke arah pagar-pagar Konstantinopel.
Setelah serangan Meriam itu menjadi tenang, datanglah kelompok baru yang dipimpin sultan sendiri. Mereka berhasil memanjati pagar benteng sehingga membuat musuh tercengang. Mereka telah berhasil membuka jalan untuk memasuki kota tersebut dari arah Topkapi.
Sementara pasukan Utsmani melanjutkan serangan mereka pada sisi lain kota, hingga mereka berhasil menembus pagar-pagar benteng dan menguasai beberapa Menara serta menumpaskan sejumlah pasukan Byzantium di pintu Aderna.
Ketika Constantine, pemimpin kota Konstantinopel, melihat panji-panji Utsmani berkibar di atas Menara-menara bagian selatan kota itu, ia pun yakin bahwa sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Ia melepaskan pakaiannya agar tidak dikenali, lalu turun dari kudanya dan bertempur hingga terbunuh di medan perang.
Demikianlah kaum Muslimin berhasil menguasai kota Konstantinopel.
Wilayah Kekuasaan Turki Utsmani
Sekitar dua pertiga abad setelah didirikan di Anatolia pada tahun 1300 M, dengan mengorbankan Kekaisaran Bizantium dan didirikan di atas reruntuhan Kerajaan Saljuk, Kerajaan Turki Utsmani hanyalah sebuah emirat di daerah perbatasan. Pada saat itu, negara ini masih diliputi suasana peperangan. Pada tahun 1300 M, setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Utsmani (Raja Besar Keluarga Usman), sedikit demi sedikit wilayah kerajaan dapat diperluas. Pada tahun 1317 M, dilakukan penyerangan daerah perbatasan Bizantium dan penaklukan kota Broessa (Bursa). Pada tahun 1326 M, kota Broessa (Bursa) diresmikan sebagai ibu kota kerajaan.
Pada tahun 1326-1360 M di masa pemerintahan Orkhan, putra Usman, ia membentuk pasukan yang tangguh yang dikenal dengan pasukan Inkisyariyah (Janissary) untuk membentengi kekuasaannya. Pasukan ini berasal dari para pemuda tawanan perang. Kebijakan militer ini lebih berkembang pada saat pemerintahan Murad I, pengganti Orkhan. Ia membentuk sejumlah korps atau cabang-cabang pasukan Yenissary. Pembaruan besar-besaran dalam organisasi militer masa pemerintahan Orkhan dan Murad I tak hanya perombakan personel pemimpin namun juga dalam keanggotaannya. Seluruh pasukan dididik dan dilatih dalam asrama militer dengan pembekalan semangat perjuangan Islam. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Turki Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negara-negara non-Muslim.
Pada masa inilah dilakukan perluasan wilayah yang lebih agresif dengan mengandalkan pasukan Janissary. Wilayah tersebut meliputi Azmir (Smirna) pada tahun 1327 M, Thawasyanly pada tahun 1330 M, Uskandar pada tahun 1338 M, Angkara pada tahun 1354 M, dan Gallipoli pada tahun 1356 M. Daerah-daerah tersebut merupakan bagian benua Eropa yang pertama kali ditaklukkan oleh Kerajaan Utsmani. Ekspansi yang lebih besar juga terjadi di masa ini meliputi daerah Balkan, Andrinopel, Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah Yunani. Kemudian Andrinopel dijadikan sebagai ibu kota baru karena letaknya yang strategis.
Setelah Murad I tewas dalam pertempuran melawan pasukan Kristen, ekspansi selanjutnya dipimpin oleh putranya yang bernama Bayazid I yang ditetapkan pada tahun 1389 M. Ia mendapat gelar Yaldirim atau Yaldirun yang berarti “kilat” karena terkenal dengan serangan-serangannya yang cepat terhadap lawannya. Di masa itu, terjadi perang besar antara pasukan Utsman dengan tentara sekutu Eropa yang dimenangkan oleh pasukan Utsmani pada tahun 1396 M. Namun, sangat disayangkan bahwa Bayazid I kalah dalam peperangan melawan Timur Lenk yang terjadi di Ankara. Bayazid I bersama kedua putranya, yaitu Musa dan Ertoghrol, ditawan hingga Bayazid I wafat pada tahun 1402 M. Ada pendapat lain mengatakan wafatnya Bayazid I pada tahun 1403 M.
Kerajaan Turki Utsmani bangkit dan mencapai kegemilangannya pada masa pemerintahan Muhammad II yang mendapat gelar Al-Fatih (Sang Penakluk) karena pada masanya ekspansi Islam berlangsung besar-besaran hingga berhasil menaklukkan kota penting, yakni Konstantinopel pada tahun 1453 M. Dengan demikian, tercapainya (penaklukan) Kerajaan Romawi Timur yang telah diupayakan oleh pasukan Muslim sejak masa Dinasti Umayyah. Konstantinopel dijadikan ibu kota kerajaan dan Gereja Aya Sophia dijadikan masjid dalam balutan keindahan kaligrafinya. Meskipun Konstantinopel jatuh di tangan Turki Utsmani, namun oleh sultan tetap diberikan kebebasan beragama. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Bizantium, lebih memudahkan ekspansi ke benua Eropa.
Setelah Muhammad Al-Fatih wafat, kemudian digantikan Bayazid II. Ia lebih mementingkan kehidupan tasawuf daripada berperang. Kelemahannya di bidang pemerintahan yang cenderung berdamai dengan musuh mengakibatkan ia tidak ditaati oleh rakyatnya. Karena terjadi perselisihan yang panjang, akhirnya ia mengundurkan diri dan diganti oleh putranya yang bernama Salim I pada tahun 1512 M. Pada masa Salim ini, para sultan menyandang dua gelar sekaligus, yaitu gelar sultan dan khalifah. Selain itu, dalam masa pemerintahannya selama 8 tahun, ia menjadi penguasa dan melindungi dua kota suci, yaitu Mekah dan Madinah.
Dalam perjalanan sejarah peradaban Turki Utsmani, terdapat puncak kejayaan yang dicapai oleh seorang sultan bernama Sulaiman Al-Qanuni (Sulaiman I) yang merupakan sultan ke-10 dan berkuasa dari 1520-1566 M. Penyematan gelar Al-Qanuniy, yang berarti “pembuat undang-undang atau hukum”, sebagai tanda penghormatan rakyat kepada pemimpinnya yang telah berjasa dalam mengatur pemerintahan yang baik. Hal tersebut ditandai dengan diterbitkannya kitab undang-undang yang berjudul “Multaqa Al-Abhur” (Titik Pertemuan Lautan) yang disusun oleh Ibrahim Al-Halabi atas perintah Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Kemudian kitab itu menjadi dasar hukum bagi pemerintahan Kesultanan Turki Utsmani sampai abad ke-19. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaannya meliputi dataran Eropa hingga Australia, Mesir dan Afrika Utara hingga ke Aljazair, dan Asia hingga Persia, serta meliputi Lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam sebagaimana pengakuan yang terdapat dalam suratnya untuk Francis I, Raja Prancis.
Baca Juga: Arab Saudi dan Ambisi Menjadi Pusat Kecerdasan Buatan Dunia
Kemunduran dan Hancurnya Dinasti Utsmani
Sebagaimana kerajaan-kerajaan pada umumnya tidak terlepas dari fase pertumbuhan, perkembangan, mencapai puncak kejayaan, dan akhirnya mengalami kemunduran serta kehancuran. Kerajaan Turki Utsmani merupakan kerajaan yang besar dan kuat sehingga penyebab kemundurannya bukanlah persoalan yang mudah dan melalui proses sejarah yang begitu lama.
Kerajaan Turki Utsmani mulai mengalami kemundurannya pada tahun 1566 M setelah Sulaiman Al-Qanuni wafat, tidak ada lagi sultan yang dapat diunggulkan. Kemudian digantikan oleh Salim II, dan dari sinilah awal mula keruntuhan Turki Utsmani dan berakhirnya masa kejayaannya. Kemunduran Turki Utsmani ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan para prajurit yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam pertempuran melawan para musuhnya. Di antaranya:
- Tahun 1633 M: Kekalahan perang dalam penyerangan Hongaria.
- Tahun 1676 M: Kekalahan perang dalam pertempuran di Mohakez, Hongaria.
- Tahun 1699 M: Dipaksa menandatangani Perjanjian Karlowitz yang berisi pernyataan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia, dan Kroasia diberikan kepada penguasa Venesia.
- Tahun 1774 M: Juga menandatangani perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan Krimea dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di Laut Hitam serta memberikan izin kepada Rusia untuk melintasi selat antara Laut Hitam dan Laut Putih.
Setelah menyadari adanya kemunduran Kerajaan Turki Utsmani, sebagian wilayah kekuasaannya melakukan pemberontakan untuk melepaskan diri dan berbagai gerakan separatisme terus berlanjut. Munculnya gerakan modernisasi politik di pusat pemerintahan berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M dan mengangkat Mustafa Kemal Attaturk sebagai presiden pertamanya.
Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani ditandai dengan adanya beberapa faktor, sebagai berikut:
a. Kelemahan Seorang Sultan dalam Birokrasi Pemerintahan
Ketergantungan kepada kemampuan seorang sultan dalam menjalankan roda pemerintahan. Apabila seorang sultan lemah, dapat membuat peluang yang cukup besar pula bagi keruntuhan kerajaan. Akibat lemahnya para sultan, maka menimbulkan pemberontakan-pemberontakan dalam negeri, seperti di Suriah di bawah pimpinan Kurdi Jambulat, di Lebanon di bawah pimpinan Drize Amir Fakhruddin. Dengan negara-negara tetangga terjadi peperangan seperti Venesia (1645-1664) dan dengan Syah Abbas dari Persia. Tentara Turki Usmani (Jenissari) juga melakukan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan karena ketidakberdayaan sultan dan kelemahan sistem birokrasi yang mewarnai perjalanan Kerajaan Turki Utsmani.
b. Kemerosotan Kondisi Sosial Ekonomi
Kondisi Kerajaan Turki Utsmani mengalami perubahan mendasar mengenai jumlah penduduk kerajaan karena banyaknya wilayah kekuasaan yang melakukan pemberontakan kemudian melepaskan diri dari kekuasaan Turki Utsmani. Kemampuan pada struktur ekonomi dan keuangan untuk memenuhi kebutuhannya pun semakin melemah dikarenakan perang yang tidak pernah berhenti, perekonomian negara menjadi merosot. Pendapatan negara berkurang, sementara kebutuhan belanja negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
c. Munculnya Kekuatan Eropa
Ketika mundurnya Kerajaan Turki Utsmani, negara Eropa sedang mengalami kemajuan yang pesat. Pada masa kejayaannya, para pelajar-pelajar Eropa datang menimba ilmu pengetahuan di universitas yang ada di Spanyol. Setelah menyelesaikan studi di Spanyol, mereka kembali ke Eropa dan melahirkan Renaissance dan Reformasi di Eropa. Hal itu membuat orang-orang Eropa bangkit menyelidiki rahasia alam semesta, menaklukkan lautan, dan menjajahi benua yang sebelumnya masih diliputi oleh kegelapan. Mereka menghasilkan penemuan baru yang menyebabkan kekuatan-kekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah Muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Ditulis Oleh: Aida Ghifary Zakiyah dan Siti Mu’allimah
