Headlines

Bahasa Arab, Kunci Memahami Agama: Para Ulama Serukan Pentingnya Pelestarian dan Pembelajaran

Yogyakarta – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, minat generasi muda Muslim terhadap pembelajaran bahasa Arab mengalami penurunan signifikan. Padahal, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan kunci utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam.

Fenomena ini terlihat dari menurunnya jumlah peserta kursus bahasa Arab non-formal, berkurangnya peminat jurusan bahasa Arab di beberapa perguruan tinggi Islam, serta lemahnya kemampuan berbahasa Arab di kalangan santri dan pelajar.

“Banyak pelajar lebih tertarik belajar bahasa Korea atau Inggris, bahkan di pesantren pun terkadang bahasa Arab hanya dijadikan pelajaran formal, bukan kebutuhan ruhani,” ujar Ust. Fadhlurrahman, pengajar bahasa Arab di sebuah pesantren di Depok, Kamis (18/7).

Menurutnya, kurangnya motivasi, pendekatan pembelajaran yang monoton, serta minimnya keteladanan praktis dalam menggunakan bahasa Arab menjadi faktor utama penurunan ini. Ia menilai fenomena ini sebagai ancaman terhadap pemahaman agama.

“Bahasa Arab bukan sekadar pelajaran, tapi alat untuk menyerap ilmu syar’i. Kalau umat Islam jauh dari bahasa Arab, maka akan jauh pula dari pemahaman agama yang benar,” tambahnya.

Baca Juga: Manfaat Lari untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Aisyah Zahra, Dosen Pendidikan Bahasa Arab di salah satu universitas Islam negeri di Indonesia. Ia menyayangkan masih banyaknya lembaga pendidikan Islam yang belum menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab secara komunikatif. “Padahal generasi salaf dulu belajar bahasa Arab dengan semangat luar biasa, karena mereka tahu ini bagian dari agama. Sekarang, sayangnya, bahasa Arab dianggap sulit, kuno, dan tidak menarik,” katanya dalam seminar daring bertema Revitalisasi Bahasa Arab di Era Digital.

Meskipun demikian, ada sejumlah upaya yang mulai digencarkan, seperti integrasi media digital, penggunaan metode pembelajaran aktif, serta pemanfaatan aplikasi dan platform online untuk belajar bahasa Arab. Beberapa lembaga dakwah juga mulai mengadakan program intensif bahasa Arab dengan metode yang lebih aplikatif dan menyenangkan.

Para pengamat pendidikan Islam menegaskan bahwa menghidupkan kembali semangat belajar bahasa Arab adalah tugas kolektif, mulai dari pendidik, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga keluarga Muslim itu sendiri.

Bahasa Arab kembali ditegaskan sebagai bahasa yang memiliki posisi penting dan mulia dalam ajaran Islam. Para ulama terdahulu dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam menyatakan bahwa mempelajari bahasa Arab bukan sekadar kebutuhan linguistik, tetapi bagian dari kewajiban agama.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Bahasa Arab adalah “bahasa yang paling fasih, paling jelas, dan paling baik dalam menyampaikan makna yang mudah diterima dalam jiwa.” Bahasa ini dipilih oleh Allah untuk menurunkan kitab-Nya yang paling mulia, Al-Qur’an, kepada Rasul terakhir, Nabi Muhammad ﷺ.

“Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

Pentingnya bahasa Arab juga disampaikan oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Pelajarilah bahasa Arab, karena ia sebagian dari agamamu.” Sementara Imam al-Syafi’i rahimahullah mengingatkan bahwa siapa pun yang mampu belajar bahasa Arab, hendaknya tidak meninggalkannya, karena bahasa ini adalah pilihan Allah untuk syariat-Nya.

Tak hanya itu, ulama seperti al-Shatibi menegaskan bahwa seluruh syariat Islam hanya bisa dipahami dengan benar jika seseorang menguasai bahasa Arab. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ibnu Jinni bahwa banyak penyimpangan dalam memahami agama terjadi karena kelemahan dalam penguasaan bahasa Arab.

Dalam konteks kekinian, sejumlah tokoh pendidikan dan keagamaan menyerukan agar umat Islam, khususnya generasi muda, kembali mencintai dan mempelajari bahasa Arab. Selain menjadi bahasa ibadah, bahasa Arab juga merupakan pintu gerbang ilmu, pemahaman akidah, dan pelestarian warisan intelektual Islam.

“Bahasa Arab ibarat lautan. Tidak cukup hanya berenang di dalamnya, tetapi kita harus menyelaminya dan menggali keindahan makna yang dikandungnya,” demikian disampaikan dalam pernyataan seorang tokoh pendidikan Islam di Jakarta.

Para ahli juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada kebanggaan terhadap bahasa asing dan meninggalkan bahasa Arab, yang sejatinya adalah identitas dan jati diri umat Islam.

Didalam Kitab Al-Ifādah fī Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah, salah satu karya penting dalam pengantar ilmu nahwu, kembali menegaskan kedudukan istimewa bahasa Arab sebagai bahasa agama dan sarana utama memahami wahyu Ilahi. Dalam muqaddimah kitab tersebut dijelaskan bahwa bahasa Arab bukan sekadar bahasa komunikasi, melainkan bahasa wahyu, bahasa Al-Qur’an, bahasa Rasulullah ﷺ, dan bahasa syariat Islam. Oleh sebab itu, mempelajarinya menjadi bagian penting dalam memahami Islam secara utuh.

“Bahasa Arab adalah kunci bagi siapa pun yang ingin memahami Al-Qur’an, hadits, dan warisan para ulama. Tanpa bahasa Arab, pemahaman terhadap Islam akan menjadi lemah dan terbatas,” terang isi kitab tersebut.

Penulis Al-Ifādah, yang merupakan pensyarah kitab Al-Ājurrūmiyyah karya Imam Ibn Ājurrūm, menekankan bahwa ilmu nahwu adalah ilmu yang sangat penting karena ia menjaga makna dan maklumat dalam bahasa Arab agar tidak berubah atau rusak. Hal ini menjadi dasar kenapa bahasa Arab dipelajari secara sistematis, mulai dari struktur kalimat (jumlah), i’rab, hingga tarkib.

Kitab tersebut juga menjelaskan bahwa:

  • Bahasa Arab adalah simbol kemuliaan umat Islam, karena merupakan bahasa Nabi Muhammad ﷺ.
  • Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari ta’allum ad-dīn (belajar agama).
  • Bahasa Arab adalah alat pemahaman agama (wasīlah li fahm ad-dīn), bukan tujuan akhir, tetapi jalan utama untuk memahami syariat.

“Sebagaimana seseorang tidak bisa memahami perintah dan larangan syariat kecuali dengan memahami teks aslinya, maka mempelajari bahasa Arab adalah kewajiban bagi yang ingin mendalami Islam,” lanjut penulis Al-Ifādah.

Para pengajar dan pengasuh pondok pesantren pun menyambut penekanan ini sebagai pengingat bahwa pengajaran bahasa Arab harus menjadi prioritas dalam lembaga pendidikan Islam. Tidak hanya sebagai pelajaran bahasa, tetapi sebagai pilar utama dalam pendidikan keislaman.

Di tengah menurunnya minat belajar bahasa Arab di kalangan generasi muda, pondok pesantren tetap menjadi benteng terakhir dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Al-Qur’an tersebut. Melalui sistem pendidikan tradisional yang berakar kuat pada warisan ulama, pesantren memainkan peran strategis dalam menjaga keberlangsungan bahasa Arab sebagai bahasa agama.

Sejak awal berdirinya, pesantren telah menjadikan bahasa Arab sebagai kunci utama dalam memahami ajaran Islam, dan tradisi ini terus diwariskan hingga kini.

Di banyak pesantren salaf dan modern, para santri diwajibkan mempelajari ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah. Tak sedikit pula yang menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, baik dalam kelas maupun di lingkungan asrama. Program muhadasah (percakapan), imla’ (dikte), dan penerjemahan kitab terus dikembangkan untuk memperkuat keterampilan para santri.

Pakar pendidikan bahasa Arab menyampaikan “Kalau umat Islam ingin kuat dan lurus dalam pemahaman agamanya, maka pesantren harus menjadi pusat penguatan bahasa Arab,”

Namun, tantangan tetap ada. Gempuran media digital, bahasa populer asing, dan kecenderungan anak muda yang lebih menyukai hal-hal instan menjadi kendala dalam membangun minat terhadap bahasa Arab. Meski begitu, banyak pesantren mulai beradaptasi dengan menggunakan metode pembelajaran interaktif dan berbasis teknologi.

Beberapa pesantren bahkan telah meluncurkan platform e-learning bahasa Arab, menerbitkan konten YouTube berbahasa Arab, hingga membentuk komunitas sastra Arab di kalangan santri.

Pemerhati pendidikan Islam menilai, jika peran pesantren dalam membina bahasa Arab diperkuat dan didukung oleh pemerintah serta masyarakat, maka bahasa Arab akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan umat Islam, bukan hanya simbol masa lalu.

Bahasa Arab bukan hanya bahasa orang Arab, tetapi bahasa Islam. Ia adalah bahasa Al-Qur’an, bahasa Nabi Muhammad ﷺ, dan bahasa ilmu para ulama sepanjang zaman. Mempelajari bahasa Arab adalah kunci untuk memahami Islam secara mendalam. Tanpa bahasa Arab, kita hanya akan mengenal kulitnya, bukan intinya. Hendaknya kita semua menanamkan semangat dalam belajar bahasa Arab karena belajar Bahasa Arab adalah salah satu bentuk ibadah.

Ditulis Oleh:  Sutarno Abu Hafizh-Mahasiswa STIT Madani Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *