“Adab adalah pondasi ilmu. Jika ia hilang, ilmu kehilangan arah.”
Dalam keriuhan pendidikan kontemporer yang condong pada prestasi akademis dan penguasaan teknologi, adab atau etika mulai terabaikan. Anak-anak kini diperkenalkan pada berhitung, sains, bahkan coding sejak dini, namun seringkali luput dari tata cara sederhana seperti meminta izin kepada guru, menyapa dengan hormat, atau bersikap sopan kepada orang tua. Fenomena ini bukan sekadar kehilangan etiket, melainkan sebuah indikasi krisis mendalam dalam pembentukan karakter. Pendidikan seolah mengejar kuantitas pengetahuan, namun mengabaikan kualitas kemanusiaan yang holistik. Fokus bergeser pada pencapaian skor tinggi dalam ujian standar dan kemampuan mengoperasikan gawai pintar, sementara esensi kemanusiaan, yaitu budi pekerti, terpinggirkan.
Dalam tradisi pendidikan Islam, adab justru dipandang lebih tinggi dari ilmu. Para ulama zaman dahulu selalu menyandingkan keduanya; ilmu tanpa adab diibaratkan api tanpa kendali, yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Metafora ini bukanlah sekadar ungkapan puitis, melainkan sebuah peringatan serius tentang potensi destruktif dari ilmu yang tidak disertai dengan kendali moral. Individu yang cerdas tetapi tidak beradab bisa menyalahgunakan ilmunya untuk tujuan yang merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Bayangkan seorang ilmuwan yang menciptakan teknologi canggih namun memanfaatkannya untuk eksploitasi, atau politikus pintar yang memperalat kecerdasannya demi kepentingan pribadi dan penindasan rakyat. Tanpa adab, ilmu berisiko menjadi instrumen penindasan dan kehancuran, bukan sarana untuk membangun peradaban.
Baca Juga: Redup Lampu Angkringan dan Rasa
Imam Malik pernah berkata kepada anak muda yang hendak belajar ilmu:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” (Biografi Imam Malik dalam Tartib al-Madarik, karya Qadi ‘Iyadh)
Begitu juga Imam Syafi’i, sebelum belajar fiqih kepada Imam Malik, terlebih dahulu ia belajar adab selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi mendidik karakter dan perilaku sebelum memberikan pengetahuan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…” (QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini turun untuk mengajarkan adab, bukan ilmu. Para sahabat, meski telah berilmu, masih diarahkan agar menjaga etika ketika berhadapan dengan Rasulullah, sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu dan pembawanya.
Dalam ayat lain:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Bentuk ketakwaan yang dimaksud pada ayat tersebut tidak hanya tentang takwa kepada Allah SWT melainkan juga tentang pengamalan adab dalam kehidupan sehari-hari seperti jujur, rendah hati, menghormati orang lain.
Sistem pendidikan yang berlaku sekarang ini lebih sering menilai siswa berdasarkan angka dan nilai, bukan pada karakter atau akhlak siswa. Seorang siswa bisa dianggap “berprestasi” hanya karena nilai akademisnya tinggi, meskipun siswa tersebut berperilaku kurang ajar kepada guru atau tidak memiliki empati terhadap teman-temannya. Ironisnya, hal ini menciptakan paradoks di mana kecerdasan intelektual diagungkan, sementara integritas moral terabaikan. Lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi miniatur masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, justru menampilkan fenomena-fenomena sebaliknya.
Dalam berbagai survey menunjukkan bahwa tingkat bullying, intoleransi, dan individualisme semakin meningkat di lingkungan sekolah. Fenomena ini menjadi cerminan nyata dari kegagalan sistem dalam menanamkan nilai-nilai adab. Pendidikan adab sering kali dianggap sebagai urusan keluarga, bukan sebagai tanggung jawab sekolah. Pandangan ini perlu diluruskan sebab dalam Islam, seluruh sistem pendidikan seharusnya bersatu dalam menanamkan adab seperti sekolah, rumah, dan juga masyarakat. Tanggung jawab ini tidak bisa didelegasikan sepenuhnya pada salah satu pihak saja. Sinergi antara ketiganya akan menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif bagi pertumbuhan karakter yang positif. Orang tua, guru, dan komunitas harus bekerja sama, memberikan teladan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan adab.
Mengajarkan adab tak harus rumit. Bisa dimulai dari:
- Menyapa dan menghormati guru dengan bahasa santun.
Ini adalah fondasi dasar interaksi yang menunjukkan rasa hormat dan penghargaan terhadap pendidik. Kebiasaan ini akan membentuk karakter siswa yang menghargai orang lain dan menjaga tata krama dalam komunikasi.
- Memberi ruang siswa untuk mendengarkan dan berdiskusi, bukan memaksakan.
Ini mengajarkan adab dalam perbedaan pendapat dan pentingnya mendengarkan sebelum berbicara. Dengan demikian, siswa belajar untuk menghargai perspektif orang lain dan berdialog secara konstruktif, bukan sekadar memaksakan kehendak.
- Mengintegrasikan kisah-kisah teladan Nabi Muhammad dan sahabat dalam pembelajaran.
Kisah-kisah ini bukan hanya cerita, melainkan sumber inspirasi yang kaya akan nilai-nilai adab, kejujuran, keberanian, empati, dan integritas. Mengaitkannya dengan mata pelajaran lain dapat membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan.
- Memberikan penilaian non-akademik yang berfokus pada kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Penilaian ini harus setara pentingnya dengan penilaian akademik. Hal ini akan mengirimkan pesan bahwa karakter sama pentingnya dengan nilai, dan bahwa sekolah peduli terhadap pembentukan pribadi yang utuh.
- Berdoalah agar memiliki adab dan akhlak yang mulia
Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)
Sekolah tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat memperoleh ijazah atau bekal pekerjaan. Ia bukan sekadar ruang untuk menuntut ilmu demi nilai tinggi atau sertifikat kelulusan. Lebih dari itu, sekolah seharusnya menjadi wadah pembentukan jati diri manusia, tempat anak dibimbing menjadi pribadi yang utuh: cerdas akalnya, sehat jiwanya, dan luhur akhlaknya. Dalam konteks inilah, kita perlu merenungkan ulang arah pendidikan kita hari ini: apakah sekolah masih menjadi tempat untuk menumbuhkan manusia seutuhnya atau hanya menjadi mesin produksi tenaga kerja?
Baca Juga: Analogi Kopi Malik
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, seringkali kita tergoda untuk mengejar kemajuan intelektual semata. Kurikulum dipadatkan, target nilai ditinggikan, bahkan anak-anak pun diajak berlomba sejak usia dini. Sayangnya, dalam semangat mengejar prestasi akademik tersebut, nilai-nilai adab, etika, dan akhlak sering kali terpinggirkan. Padahal, bila kita menginginkan lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keluhuran budi, maka pendidikan harus kembali menanamkan adab sebagai fondasi utama.
Adab bukan sekadar perilaku sopan santun formal. Ia adalah refleksi dari hati yang sadar akan kedudukan diri di hadapan Tuhan, orang lain, dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Menghormati guru, berkata baik kepada teman, bersikap rendah hati dalam belajar. Semua itu adalah bagian dari adab yang membentuk karakter luhur seseorang. Jika adab ini hilang, maka sehebat apapun kecerdasan seseorang, ia tetap berisiko menyelewengkan ilmunya untuk hal-hal yang merusak, bukan membangun.
Ruang kelas seharusnya bukan hanya menjadi tempat menyampaikan teori, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan nilai-nilai adab dan empati. Mushola di sekolah bukan sekadar tempat salat berjamaah, tetapi juga tempat menanamkan keikhlasan dan kedekatan spiritual. Dan yang terpenting, para guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan juga harus menjadi teladan dalam akhlak dan sikap. Sebab anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat dibanding apa yang hanya mereka dengar.
Ilmu memang dapat mengangkat derajat seseorang, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Namun, adablah yang menjaga agar derajat itu tidak terjatuh. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sementara ilmu yang disertai adab menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi diri dan lingkungan. Sudah saatnya pendidikan kita tidak hanya menekankan kecerdasan, tetapi juga pembentukan akhlak. Sekolah harus menjadi ruang tumbuhnya ilmu dan adab sekaligus. Sebab, bangsa yang besar dibentuk bukan hanya oleh kepintaran, tetapi oleh keluhuran budi. Mari rajut kembali iman dan ilmu untuk melahirkan generasi cerdas, bermoral, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Ditulis Oleh: Siti Hasna Nabila, Mahasiswi STIT Madani Yogyakarta
