Headlines

Redup Lampu Angkringan dan Rasa

Rembulan bersemayam damai di langit malam, sinarnya menelisik hangat dalam gelapnya bumantara. Obrolan hangat mengalir, wangi kopi menguar, juga bau gorengan tercium sedap dari tungku gerobak angkringan yang berjajar di sepanjang jalan bundaran Tugu Jogja. Aku berjalan pelan, sesekali memejamkan mata, mencoba menikmati rasa manis kota istimewa ini. Harusnya Jogja terasa manis seperti halnya yang dibilang kebanyakan orang, sehingga menjadi candu tersendiri untuk kembali kesini. Namun entahlah, aku atau orang-orang yang salah menafsirkan. Sepertinya, malam ini jogja kehilangan cita rasa manisnya. Aku berhenti dan duduk di tepian jalan, menghadap tepat ke arah Tugu Jogja. Menatapnya lekat, dan derai netraku tak mampu lagi dibendung. Menatapnya saja atmaku merasakan sesak yang begitu dalam.

Aku menunduk, kemudian kusesap sedikit es teh manis yang beberapa menit lalu sempat kubeli di angkringan seberang dengan temaram lampu kuningnya. Rasanya hambar, bahkan aku tak merasakan sama sekali rasa manisnya. Derai dari netraku masih saja berjatuhan, ingatanku seketika berputar mengingat betapa adiwarna ceritaku dengannya di lembaran depan. Dia pernah berjanji datang ke kota ini untukku. Dan- ya, dia benar datang kesini kemarin sore. Sempat kulihat senyum lebar swafotonya di depan Tugu Jogja ini. Nuragaku berdesir kembali mendengar warta bahwa dia akan bersinggah ke kota ini. Kupikir, akan ada temu dan pembicaraan yang mengalir hangat di atas derum motor dengan latar langit malam Kota Jogja dan semua akan membaik setelahnya. Namun ternyata, datangnya kesini untuk mengusaikan cerita.

Baca Juga: Manfaat Lari untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Tadinya kupikir Jogja bisa berkompromi denganku, namun Kota Istimewa ini malah menjadi saksi usainya asmaralokaku dengannya. Dia pulang, pergi dan melepasku di kota ini tanpa sepatah kata. Ia tak ingin lagi menjadi seorang tokoh utama dalam ceritaku. Aku hanya terdiam dengan menyuarakan alegi. Senandika ku tak lagi mampu beraksara apa-apa. Segalanya terhenti di tanda koma. Kuhapus paksa renjanaku yang tadinya kian hari kian membuncah untuknya. Kuhilangkan segala hal perasaan dan aksara tentang dirinya.

Aku hapus paksa air mataku, kuperhatikan kembali jajaran lampu angkringan di seberang sana. Kuning, redup, sama halnya dengan rasaku yang meredup kepadanya. Lampu angkringan yang temaram begitu hangat dan terkesan menyajikan tawa bagi setiap orang yang duduk didalamnya. Namun, tidak dengan rasaku yang justru terasa dingin karena kudekap sendirian. Kulirik arloji di pergelangan kiriku, sudah menunujukkan pukul sebelas malam. Sudah terlalu lama aku menatap Tugu Jogja ini. Telah kuhabiskan semua deraiku di bawah gemintang malam ini, dan setelah ini aku berjanji pada nuragaku untuk menutup segala aksa perihalnya. Aku dan dia telah berada di tanda titik, bukan lagi tanda koma yang akan meneruskan sebuah cerita.

Becak, andong, dan beberapa ojek online masih saja berlalu lalang di sepanjang jalan. Kusesap kembali sisa es tehku yang terasa begitu hambar, kuhabiskan dengan paksa meski sudah tanpa rasa. Ternyata tak seburuk itu menghabiskan rasa manis yang telah hilang rasa. Rasanya tak berubah menjadi pahit sedikitpun. Dari sini, aku yakin bahwa keputusanku untuk menghabiskan sisa rasaku malam ini tidak akan seburuk apa yang terbayang dalam kepala.

Lampu temaram angkringan mulai padam satu persatu ketika aku lekas beranjak pergi, kupandangi sekali lagi Tugu Jogja di depan sana. Deraiku tak lagi tumpah ruah seperti halnya tadi. Kulambaikan tangan untuk menghentikan andong yang terlihat tanpa penumpang. Aku pulang, dan rasaku hilang. Nuraga, dia telah pergi dari fuadku. Jadi, mari kita berkompromi dengan baik untuk tidak lagi mengingat segala kenang tentangnya.

Ditulis oleh: Ikfalia Febiantika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *