Headlines

Analogi Kopi Malik

Mentari lekas berpulang, bus-bus kota berlalu lalang, manusia-manusia dengan tumpukan cita dan harapan orangtua satu persatu pulang ke griya singgahnya. Begitupun dengan Malik, anak rantau dari belahan timur nusantara yang tengah bergegas pulang dengan ransel di pundaknya. Ia harus segera menyelesaikan semua tugasnya sebelum jarum jam tepat menunjukkan pukul 18.00. Ketika purnama mulai menyapa Malik harus beralih profesi menjadi seorang peracik kopi di kafe ‘senja melati’. Pekerjaan itu telah ia lakoni sekitar tiga semester terakhir ini. Bukan tanpa alasan Malik mengambil pekerjaan ini, tapi karena ia merasa sudah seharusnya tidak lagi menjadi beban kedua orangtuanya. Terlebih ia adalah anak sulung dengan tiga adik perempuan.

Baca Juga: Islam dan Peradabannya di Andalusia

Jika dikata lelah, jelas lelah. Karena Malik mengambil mata kuliah mulai pukul tujuh pagi hingga sore pukul tiga di hari Senin sampai dengan Kamis. Sedangkan jum’at hingga Minggu ia bekerja full time di ‘senja melati’ mulai dari pukul 09.00 sampai larut malam. Belum lagi banyaknya tugas yang terkadang tak cukup hanya dengan satu, dua jam pengerjaan. Tapi bagi Malik semua itu akan terbayar lunas ketika melihat senyum kebahagiaan dari  sang ayah, ibu, dan juga adik-adiknya. Se sederhana itu kebahagiaan seorang Malik. Ia adalah sosok ayah kedua di rumahnya. Ia harus menanggung biaya ketiga adik perempuannya, karena semenjak satu setengah tahun yang lalu ayahnya mengalami kecelakaan hebat yang menyebabkan sang ayah tidak lagi bisa bekerja.

Malam ini ‘senja melati’ cukup ramai karena weekend, banyak pasangan muda mudi bercengkrama mesra membuat hati Malik merasa sedikit tercubit. Seperti biasa, Malik menyunggingkan senyum setelah menyelesaikan lukisan cantik dalam segelas kopi racikannya. “kopi ini akan terkesan manis di lidah penikmatnya” gumam Malik dalam hatinya. “lik, kamu kenapa?” ucap seorang lelaki dengan menepuk pundaknya. Ia adalah Rendi, sahabat Malik yang mengajaknya untuk bekerja di kafe ini satu setengah tahun yang lalu. Malik hanya tersenyum kecil menanggapi “aku rindu rumahku han, aku rindu senyum ayah, ibu dan adik-adikku”. Rehan tersenyum kecil menanggapi “pulanglah lik minggu depan, akan aku handle semua pekerjaanmu. Ingat lik, sebaik-baik rumah adalah mereka yang senyumnya mampu hilangkan lelahmu”. “haha, benar katamu ren. Baiklah, aku akan pulang sebentar minggu depan” ucap Malik dengan raut bahagianya.

Satu minggu berlalu, dan sekarang Malik telah berada di rumah yang sebenar-benarnya rumah. Kedatangannya di sambut dengan tawa hangat kedua adik kecilnya. Malik berjalan masuk dan bersalaman dengan ayah ibunya “buu, ibu sehat kan?” tanya Malik kepada sang ibu. “alhamdulillah sehat mas, mas malik sendiri gimana kabarnya? Kok tambah kurusan gini hmm”. Malik menjawab dengan senyum yang mengembang “malik sehat kok bu, Cuma akhir-akhir ini malik sering kangen ibu dan orang rumah”. “maafkan ayah yang sakit-sakitan ini ya lik, karena ayah kamu jadi harus bekerja keras untuk keluarga ini”. Ucap ayah Malik dengan tatapan sendunya. Malik menyunggingkan senyum tulus kepada sang ayah “yah, harusnya Malik yang minta maaf karena belum bisa menjadi orang hebat seperti ayah. Ayah harus tau, kalau malik bahagia bisa sedikit membantu keperluan rumah. Malik janji akan secepatnya mendapat gelar itu. Lalu mencari pekerjaan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan kita”.  Sang ayah begitu terharu mendengar jawaban putra sulungnya.

“mas malik, apa nggak sebaiknya mas berhenti bekerja saja supaya bisa kembali fokus belajar. Biar ibu saja yang bekerja mas” ucap sang ibu. Malik menggeleng menanggapi penuturan ibunya “bu, Malik janji akan mendapatkan gelar itu secepatnya, doakan Malik ya bu. Tapi jangan suruh Malik berhenti untuk bekerja, Malik bahagia menjalani pekerjaan ini, karena Malik menikmatinya. Seperti halnya racikan kopi yang akan terasa manis di lidah pecintanya, pekerjaan ini juga terasa manis karena Malik melakukannya dengan rasa cinta yang tulus untuk ibu, ayah, dan juga adik-adik”

Sang ibu tak kuasa lagi menahan airmatanya ketika mendengar penuturan Malik yang begitu tulus, sang ibu segera mendekap erat-erat putranya, begitu juga ayah Malik yang juga ikut memeluknya. Hati Malik mengahangat, senyumnya terbit sempurna “Tuhan, tolong jaga mereka lebih lama lagi di dunia ini” ucap Malik dalam hatinya. Rembulan di langit malam pun bersinar hangat seolah turut merayakan ketulusan Malik.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *