Headlines

Pendidikan Islam sebagai Fitrah Pendidikan Manusia

Di zaman modern ini, sistem pendidikan terus berkembang dalam berbagai model dan pendekatan. Namun, satu hal yang tidak berubah sejak zaman penciptaan manusia adalah kebutuhan akan pendidikan yang selaras dengan jati diri manusia. Pendidikan yang membentuk bukan hanya akal, tetapi juga jiwa dan akhlak serta pendidikan yang membimbing, bukan sekadar mengisi. Inilah yang dikenal dalam Islam sebagai at-Tarbiyah al-Islamiyyah — pendidikan Islam.

Islam memandang pendidikan bukan hanya sebagai sarana untuk meraih pekerjaan, gelar, atau status duniawi. Tapi ia adalah wasilah untuk menjaga, menumbuhkan, dan meluruskan fitrah manusia. Karena manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan suci dan cenderung kepada kebenaran, maka pendidikan Islam hadir bukan untuk mengubah arah itu, tapi justru untuk menguatkan dan mempertahankannya di tengah godaan dunia dan syubhat zaman.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(QS. Ar-Rum: 30)

Dalam ayat ini, Allah menyebut Islam sebagai “fitrah Allah” yakni ajaran yang sesuai dengan watak dasar penciptaan manusia. Pendidikan Islam sejati bertugas menghidupkan potensi itu, bukan menghilangkannya. Islam mendidik bukan hanya otak, tapi juga hati dan ruh.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi penting dalam memahami konsep pendidikan Islam: bahwa anak sudah memiliki dasar iman, dan lingkunganlah yang membentuk arah hidupnya. Maka pendidikan adalah tanggung jawab besar untuk menjaga kemurnian fitrah, bukan mencemarinya.

Pandangan Para Sahabat dan Ulama Salaf

Para sahabat Nabi dan ulama salaf sangat memahami bahwa fitrah manusia adalah pondasi pendidikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ’Abbas رضي الله عنهما dalam kitab tafsir ath-thabari bahwa Fitrah yang dimaksud dalam ayat adalah Islam, yaitu keimanan kepada Allah sejak lahir

Sementara Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berpendapat dalam Tuhfatul Maudud bahwa Hakikat pendidikan adalah menumbuhkan potensi yang Allah tanamkan pada manusia sejak ia diciptakan. Dan itu tidak akan tumbuh dengan baik kecuali melalui pendidikan Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله juga berpendapat dalam Majmu’ al-Fatawa bahwasanya Islam adalah agama fitrah. Ia sesuai dengan akal sehat dan jiwa yang lurus. Maka, pendidikan Islam adalah pendidikan paling manusiawi, karena ia mengarahkan manusia kepada apa yang ia diciptakan untuknya.

Dari beberapa dalil dan pendapat para ulama dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah jalan kembali kepada asal kejadian manusia, bukan hanya sebagai makhluk berpikir, tapi sebagai hamba Allah yang mulia.

Baca Juga: Maqluba: Dari Dapur Palestina ke Meja Perlawanan Budaya

Karakteristik Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Fitrah

1.Tauhid sebagai Pusat Tujuan

Fitrah manusia adalah mengenal dan menyembah Allah. Maka pendidikan Islam selalu dimulai dari pengenalan terhadap Allah, rububiyyah-Nya, dan uluhiyyah-Nya serta nama dan sifat-sifat Allah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

2.Menghidupkan Hati dan Akal

Pendidikan Islam membina akal lewat ilmu, dan membina hati lewat iman. Kedua unsur ini harus seimbang agar manusia tidak menjadi cerdas tapi sesat, atau saleh tapi lemah akal.

3.Terpadu dan Menyeluruh (Syamil wa Mutakamil)

Islam mendidik seluruh aspek kehidupan: ibadah, muamalah, akhlak, jiwa, tubuh, bahkan peradaban. Maka pendidikan Islam tidak membiarkan jiwa tumbuh dalam kekosongan spiritual.

4.Menanamkan Adab sebelum Ilmu

Salafusshalih selalu menekankan adab sebelum ilmu. Karena fitrah manusia cenderung kepada kebaikan, maka adab adalah sarana utama untuk menjaga fitrah itu tetap bersih.Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy:

“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”

Di tengah sistem pendidikan sekuler yang mengagungkan kebebasan tanpa arah dan prestasi tanpa iman, pendidikan Islam hadir sebagai cahaya yang membimbing fitrah. Ia bukan pendidikan yang mengubah manusia menjadi mesin kerja, tapi membentuknya menjadi hamba yang mengenal Rabb-nya, mencintai akhirat, dan membawa rahmat bagi sekitarnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Pendidikan Islam adalah jalan menyucikan jiwa, bukan sekadar mencerdaskan kepala. Ia adalah pendidikan yang mengangkat harkat manusia dari makhluk yang lemah menjadi wali Allah di muka bumi.

Maka, henadaknya para pendidik, orang tua, dan pencari ilmu mengembalikan pendidikan pada fitrahnya. Kembali kepada Islam sebagai sistem yang membentuk manusia secara utuh: akalnya, hatinya, dan akhlaknya.

وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ

“Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Ditulis Oleh : Ulul Azmi – Mahasiswa STIT Madani Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *