Headlines

Wahabi Lingkungan: Salah Kaprah Melabeli Pejuang Bumi

Belakangan ini, sebuah label kontroversial menyeruak ke permukaan yakni istilah Wahabi Lingkungan. Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh seorang tokoh intelektual, bertujuan untuk mengkritik apa yang dianggapnya sebagai pendekatan ekstrem atau puritan dalam aktivisme lingkungan. Namun, apakah pantas kita menempelkan cap seberat itu pada mereka yang justru berjuang mati-matian demi kelangsungan bumi yang kita pijak? Jawabannya tentu tidak. Label ini bukan hanya salah kaprah, melainkan juga berbahaya dan mengaburkan esensi perjuangan vital para aktivis lingkungan.

Asal Mula dan Maksud di Balik Label

Gagasan “Wahabi Lingkungan” mencuat dari pemikiran Ulil Abshar Abdalla, seorang cendekiawan Muslim yang kerap menyampaikan pandangan progresif. Ia menggunakan metafora ini untuk menyasar apa yang ia lihat sebagai “puritanisme” dalam gerakan lingkungan, membandingkannya dengan kekakuan dalam penafsiran teks agama. Menurut Ulil, ada sebagian aktivis lingkungan yang menolak secara mutlak segala bentuk intervensi manusia atau aktivitas ekonomi ekstraktif, seperti pertambangan. Baginya, penolakan total ini adalah bentuk ekstremisme yang menghambat upaya mencari “jalan tengah” antara pembangunan ekonomi dan kelestarian alam.

Ulil mungkin bermaksud memicu diskusi tentang moderasi atau pendekatan yang lebih seimbang dalam isu lingkungan. Ia mungkin ingin menyoroti potensi adanya narasi “alarmisme global” yang terlalu menakut-nakuti tanpa mempertimbangkan konteks sosio-ekonomi yang lebih luas. Namun, pilihan kata “Wahabi” adalah sebuah langkah yang sangat ceroboh dan menimbulkan efek bumerang

Baca juga: UU Pesantren: Tonggak Pengakuan Negara atas Kemandirian dan Kontribusi Pesantren

Mengapa “Wahabi Lingkungan” adalah Label yang Keliru dan Berbahaya?

Penggunaan label ini memicu gelombang kritik hebat dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, aktivis, hingga masyarakat umum. Ada beberapa alasan kuat mengapa label ini sangat problematis:

1. Konotasi Negatif yang Mendalam dan Stigmatisasi

Istilah “Wahabi” membawa beban sejarah dan konotasi yang sangat berat. Ia sering dikaitkan dengan gerakan keagamaan yang kaku, intoleran, bahkan ekstremisme dan terorisme. Ketika label ini dilekatkan pada aktivis lingkungan, ia secara instan menciptakan stereotip negatif yang salah dan menyesatkan. Ini bukan sekadar panggilan nama; ini adalah upaya untuk mendelegitimasi seluruh gerakan lingkungan dan menjadikannya tampak radikal atau berbahaya di mata publik.

Stigmatisasi semacam ini dapat membungkam kritik, menghalangi partisipasi publik, dan bahkan membahayakan keselamatan para aktivis yang seringkali sudah menghadapi ancaman di lapangan. Bayangkan saja dampak psikologis dan sosial ketika Anda berjuang demi kelestarian alam, namun justru dicap dengan label yang menakutkan seperti itu.

2. Menyederhanakan Isu Lingkungan yang Kompleks

Gerakan lingkungan tidaklah sesederhana penolakan membabi buta. Ia adalah respons terhadap krisis global yang nyata dan multidimensional, mencakup:

  • Perubahan Iklim: Ancaman eksistensial akibat emisi gas rumah kaca.
  • Kerusakan Ekosistem: Hilangnya hutan, terumbu karang, dan keanekaragaman hayati.
  • Pencemaran: Udara, air, dan tanah yang meracuni kehidupan.
  • Keadilan Sosial: Dampak kerusakan lingkungan yang disproportionate terhadap masyarakat adat dan kelompok rentan.
  • Hak Asasi Manusia: Perampasan tanah, penggusuran, dan kriminalisasi para pembela lingkungan.

Aktivis lingkungan bekerja berdasarkan data ilmiah, riset mendalam, dan pengalaman nyata dari komunitas yang terdampak. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari korporasi dan pemerintah, mengadvokasi kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan, serta menawarkan solusi inovatif untuk transisi menuju ekonomi hijau. Melabeli perjuangan kompleks ini sebagai “puritanisme” adalah bentuk reduksi masalah yang sangat berbahaya, mengalihkan perhatian dari akar masalah kerusakan lingkungan dan potensi solusi nyata.

3. Analogi yang Tidak Relevan dan Dipaksakan

Menyamakan prinsip-prinsip penafsiran agama Wahabi dengan motivasi dan metode aktivisme lingkungan adalah analogi yang cacat logika dan tidak berdasar. Aktivisme lingkungan didorong oleh keprihatinan terhadap kelangsungan hidup planet dan kemanusiaan, berdasarkan bukti empiris dan prinsip etika universal tentang keberlanjutan. Ini bukan tentang dogma keagamaan, melainkan tentang konservasi, keadilan, dan masa depan.

Meskipun ada berbagai spektrum dalam aktivisme lingkungan – dari konservasi yang moderat hingga pendekatan yang lebih radikal – menggeneralisir mereka sebagai “Wahabi” adalah bentuk kesesatan berpikir (fallacy) yang tidak adil. Setiap gerakan sosial pasti memiliki beragam pandangan dan pendekatan, namun itu tidak menjadikan mereka ekstremis agama.

4. Berpotensi Membenarkan Eksploitasi Lingkungan

Secara tidak langsung, pelabelan semacam ini bisa digunakan oleh pihak-pihak yang memiliki vested interest dalam aktivitas ekstraktif untuk membungkam kritik. Ketika aktivis lingkungan dicap sebagai “ekstremis” atau “anti-pembangunan,” narasi ini dapat digunakan untuk membenarkan praktik-praktik yang merusak lingkungan demi “kemajuan” atau “pembangunan.”

Ini menciptakan ilusi bahwa aktivis adalah penghambat, padahal mereka justru adalah penjaga masa depan yang berjuang untuk pembangunan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Narasi ini justru merugikan upaya kolaboratif untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.

Mengapa Para Aktivis Adalah Pejuang, Bukan “Wahabi”?

Para aktivis lingkungan adalah garis depan pertahanan bumi kita. Mereka bukan fanatik, melainkan individu-individu yang didorong oleh kepedulian mendalam dan keberanian luar biasa. Peran mereka sangat vital dalam:

  • Penyadar Kesadaran: Mendidik publik tentang krisis lingkungan dan dampaknya yang seringkali tidak terlihat.
  • Pengawas: Mengawasi dan melaporkan pelanggaran lingkungan oleh korporasi atau pemerintah.
  • Advokat Kebijakan: Mendorong lahirnya undang-undang dan kebijakan yang lebih kuat untuk perlindungan lingkungan.
  • Pembela Komunitas: Berdiri bersama masyarakat adat dan lokal yang paling rentan terhadap dampak perusakan lingkungan.
  • Inovator Solusi: Mencari dan mengusulkan solusi-solusi kreatif untuk masalah lingkungan, mulai dari energi terbarukan hingga praktik pertanian berkelanjutan.
  • Penuntut Akuntabilitas: Mendesak pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Mereka seringkali berhadapan dengan kekuatan besar, ancaman, intimidasi, bahkan kekerasan fisik. Banyak dari mereka yang harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa mereka demi melindungi hutan, sungai, laut, dan kehidupan di dalamnya. Menyebut mereka “Wahabi” adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan mereka dan pengabaian terhadap realitas ancaman yang mereka hadapi.

Kesimpulan: Menghentikan Pelabelan, Membangun Kolaborasi

Istilah “Wahabi Lingkungan” adalah sebuah kesalahan besar yang harus segera dihentikan. Ia tidak hanya tidak akurat, tetapi juga merugikan upaya kolektif kita dalam mengatasi krisis lingkungan. Alih-alih melabeli atau membungkam, kita harusnya mendengarkan, menghargai, dan bekerja sama dengan para pejuang lingkungan.

Tantangan lingkungan yang kita hadapi terlalu besar untuk diselesaikan dengan polarisasi atau saling tuding. Yang kita butuhkan adalah dialog yang konstruktif, pemahaman yang mendalam tentang akar masalah, dan komitmen bersama untuk mencari solusi yang berkelanjutan. Mari kita alihkan energi dari perdebatan soal label yang menyesatkan, dan fokus pada pembangunan bumi yang lestari, adil, dan layak huni bagi generasi mendatang. Para pejuang lingkungan layak mendapatkan dukungan, bukan label yang menjatuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *