Headlines

Film Yang Menggugah, Emosi yang Tumpah : Resepsi Audiens terhadap Film When Live Gives You  Tangerine

Penulis: Ahmad Al Hafizh

Pendahuluan

Belakangan ini, didunia digital, khusunya dimedia sosial kerap kali dibanjiri drama korea(drakor). Berbagai macam genre drakor terupdate dan tersuguhkan didalamnya. When Life Gives You Tangerine, Salah satu drakor yang akhir-akhir ini sangat digemari dan ramai perbincangan khususnya dikalangan anak muda. Dimana dari film ini, banyak sekali dari audiens yang merasakan relate dengan kehidupannya. Berbagai macam reaksi netizen terjadi dimedia sosial, salah satunya banyak dari kalangan netizen perempuan yang menginginkan pasangan yang diperankan oleh salah satu karakter utama.  Resepsi audiens dari film menarik untuk dikaji, melihat  karena film ini sangat berkesan dari bebrbagi aspek seperti, emosional, nilai-nilai sosial, hingga budaya. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana audiens memaknai dan respon mereka terhadap film ini, baik didunia maya maupun di dunina digital.

Profil Film

Drama ini menghadirkan kisah cinta, perjuangan, dan impian yang mengharukan. Ae Sun adalah seorang perempuan yang kompetitif dan memiliki mimpi menjadi seorang penyair. Tinggal di Pulau Jeju membuatnya tidak bisa bebas meraih mimpinya karena terhalang budaya patriarki. Di balik kehidupannya yang penuh perjuangan, ada Gwan Shik yang selalu mendukung dan melindunginya. Cerita ini menggambarkan bagaimana mereka menghadapi tantangan seperti konflik keluarga dan kemiskinan, sambil tetap berusaha meraih impian dan mempertahankan cinta mereka. Berikut ini beberapa fakta menarik drama ini.

Baca juga: Regulasi Kurikulum Merdeka: Peraturan Menteri Nomor 16 tentang Standar Proses dan Peraturan Menteri Nomor 21 tentang Standar Penilaian

Resepsi Audiens di Media Sosial

Banyak komentar dari netizen di media sosial dalam memaknai film ini, mulai dari twitter, instagram, tiktok, bahkan ada yang membuatkan artikel khusus dalam merepresantasikan film ini. Salah satu representasi audiens di media sosial yang saya angkat dalam penulisan ini ialah artikel yang ditulis oleh Afiqul Adib pada website medium.com, yang berjudul “Andai Pak Prabowo Menonton Drakor “When Live Gives You Tangerine”

Poin representasi yang saya tangkap melalui artikel yang ditulis oleh Afiqul Adib, ia cenderung merepresentasikan pesan-pesan / pelajaran yang terdapat dari film ini terhadap kualitas jawaban Pak Presiden pada saat sesi wawancara oleh para jurnalis yang di unggah pada kanal youtube Narasi. Menurut Adib, alih-alih menemukan penjelasan logis atas banyak polemik yang terjadi, Adib justru merasa narasi yang disampaikan pak prabowo ini berputar di satu atau dua tema yang itu-itu saja.

Representasi Adib melalui artikel tersebut, mengandung kalimat-kalimat pengandaian yang berasal dari dialog dalam drama when live gives you tangerine. Salah satunya dialog yang disampaikan oleh Ae Sun, salah satu tokoh dalam drama tersebut. Dalam dialognya Ae Sun mengungkapkan, “Tidak ada orang yang akan sepenuhnya dewasa”. Dalam pernyataan ini, Adib mengandaikan jika pak prabowo mengetahui pernyataan yang diungkapkan oleh Ae Sun melalui drakornya, mungkin saja pak prabwo dapat membuat pernyataan seperti konsep yang serupa dengan pernyataannya tadi.

Sebagaimana dalam artikelnya, contoh kalimat pengandaian yang Adib ungkapkan dalam artikelnya seperti, “Dalam konteks kepemimpinan, kalimat ini bisa jadi pembuka yang manis. Blio bisa banget mengatakan, “Saya percaya tidak ada pemimpin yang sepenuhnya dewasa, termasuk saya, apalagi wakil saya”. Sambil melirik Wapresnya, “Betul kan, Pak Gibran”. Kemudian melanjutkan, “Karena itu saya juga terus belajar dan menyesuaikan diri. Tidak ada yang sempurna, termasuk saya”[2]. Adib melanjutkan kalimatnya, “iya, alih-alih terus-terusan menegaskan kehebatan, sekali-sekali tunjukkan kerendahan hati  yang justru bisa memperkuat citra seorang pemimpin. Kalimat modifikasi tersebut akan terasa “kemepyar”. Setidaknya bagi saya”. Ungkap Adib dalam tulisan artikelnya. Dalam hal ini, salah satu fenomena representasi audiens dimedia sosial adalah tentang bagaimana seseorang merepresentasikan pesan/insight yang terdapat di film when life gives you tangerine dengan membawanya ke ranah politikus melalui artikel yang dibuatnya.

Wawancara Penonton : Refleksi Personal

Selain mengobservasi langsung fenomena representasi film when live gives your tangerine yang berada di media sosial, saya juga mengadakan wawancara langsung secara personal kepada salah satu penonton. wawancara secara personal ini bertujuan untuk mengetahui refleksi personal dari salah satu penonton drakor tersebut. Azizah rahmah (24), dalam wawancaranya dia menyatakan bahwa, drama ini menjadi perwakilan daripada perasaan penonton dan fenomena-fenomena yang terjadi di Masyarakat. “Karena memang nilai-nilai yang diangkat sudah cukup bisa dilihat dari kondisi Masyarakat saat ini”, Ungkapnya.

Selain itu azizah juga mengungkapkan bahwa, banyak pesan yang bisa diambil dari drama ini, karena drama ini mengangkat nilai kehidupan dari berbagai aspek. Aspek kekeluargaan, aspek sosial dan budaya, hingga soal percintaan. “Jadi, rasanya memang nilai-nilai yang ada di drama ini cukup sesuai dengan apa yang terjadi di realita kehidupan meskipun latar yang digunakan dalam drama ini adalah sekitar tahun 1950an”, Ungkapnya.

Diakhir wawancara azizah menyampaikan pesan kuat yang diambil dari film drama tersebut, ia menyampaikan bahwa, pesan yang paling kuat adalah pesan-pesan dari adegan sekaligus dialog dalam hubungan keluarga. Penonton seolah dibawa ke dalam cerita berdasarkan dialog dan adegan yang dimunculkan. “Drama ini memberikan Pelajaran pada saya bagaimana pada akhirnya seorang anak perlu untuk melihat situasi dan kondisi yang terjadi di keluarga agar mampu memposisikan diri dan merespon persoalan dengan baik. Dalam drama ini juga dimunculkan bagaimana situasi sosial dan budaya patriarki masih kuat di dalam Masyarakat”, jelasnya.

Kesimpulan

When life gives you tangerine bukanlah film yang mengandalkan dialog atau efek besar. Tapi justru karena keserdehanaannya, film ini berhasil menggugah hati banyak penonton dan memantik diskusi emosional di media sosial. Media sosial menjadi ruang di mana orang-orang dapat meresespsikan sebuah konten, mencurahkan perasaan mereka, saling menguatkan, dan menemukan bahwa mereka tidak sendiri. Film ini membuktikan bahwa cerita kecil bisa meninggalkan jejak besar dan seringkali, tumpahan emosi itulah yang paling jujur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *